Make your own free website on Tripod.com
WARTA UNAIR
Medium Aspirasi Sivitas Akademika Universitas Airlangga
SK Rektor Universitas Airlangga No. 2187/PT03.H/H/1995. Badan Pertimbangan: Bambang Rahino Setokoesoemo, Noor Cholis Zaini, Rudhi Prasetya, Hood Alsagaff. Pembina Utama: Rektor Unair (Ex officio). Pembina: Para Pembantu Rektor Unair (Ex officio).
Pemimpin Umum/Penanggung Jawab: Noor Cholis Zaini. Pemimpin Redaksi/Wakil Penanggung Jawab: H.A. Latief Burhan.
Redaktur Pelaksana: Bagong Suyanto. Dewan Redaksi: Latief Burhan, Bagong Suyanto, Yan Yan Cahyana, Aribowo, Suko Widodo, M. Zaidun, Fasich, Moch. Rubiyanto, Saenun, IG. Paridjata W. Sekretaris Redaksi: Rachmah Ida. Koordinator Reporter: Endah R. Wijayanti.
Reporter: S. Mansurudin, Dupen S. Widianto, Iswahyudi. Pemimpin Perusahaan: Yan Yan Cahyana. Bagian Keuangan: R. Sjahriwati.
Bagian Distribusi: Sutrisno. Bagian Promosi/Iklan: Sulistia Iriani. Percetakan di Airlangga University Press.
Alamat Redaksi: Kampus C Unair, Jl. Mulyorejo, Sukolilo, Surabaya 60115 Telp. +62-31-5992246, 5992247, Fax. +62-31-5992248
E-mail: aupsby@rad.net.id

Nomor: 023/Tahun III/April 1997

Seputar Pencalonan dan Penetapan Rektor Universitas Airlangga

Pada sekitar bulan April ini akan dilaksanakan rapat senat dengan bahasan utama tentang pencalonan Rektor Universitas Airlangga. Seperti yang telah diulas pada terbitan Warta Unair edisi 021/Tahun III/Februari 1997, bahwa Rektor Unair yang sedang menjabat saat ini yaitu Prof. dr. H. Bambang Rahino Setokoesoemo akan mengakhiri masa jabatannya pada tahun ini. Dan seperti yang telah dijelaskan oleh Bambang Rahino, sesuai dengan ketentuan yang masih berlaku tidak mungkin lagi baginya untuk menjabat sebagai Rektor Unair untuk yang kedua kalinya.

Oleh karena itulah pada sekitar April nanti akan diselenggarakan rapat senat yang akan membahas siapa calon yang pantas menduduki kursi rektor untuk periode yang akan datang. Sesuai dengan ketetapan yang disampaikan oleh Direktur Jendral Pendidikan Tinggi Prof. Dr. Ir. Bambang Soehendro, bahwa nama-nama calon rektor diharapkan dapat disampaikan selambat-lambatnya 3 (tiga) bulan sebelum masa jabatan Rektor yang sekarang berakhir.

Prosedur

Kiranya tidak ada salahnya, bahkan mungkin banyak yang ingin tahu, bagaimana sebenarnya prosedur pencalonan dan penetapan Rektor Universitas Airlangga. Setelah mendapatkan data dari berbagai sumber, selanjutnya akan dipaparkan pada edisi kali ini agar seluruh sivitas akademika Universitas Airlangga bisa mengetahuinya, terutama para anggota Senat Universitas Airlangga yang baru.

Calon yang sebaiknya diajukan oleh Universitas minimal 3 (tiga) nama calon, atau bahkan bisa lebih. Pada Peraturan Pemerintah No. 30 tahun 1990, pasal 38 ayat 1 menyatakan bahwa Rektor Universitas/Institut yang diselenggarakan oleh Pemerintah, diangkat dan diberhentikan oleh Presiden atas usul Menteri, Menteri lain atau pimpinan Lembaga Pemerintah lain, setelah mendapat pertimbangan Senat Universitas/Institut yang bersangkutan.

Sementara pertimbangan Senat Perguruan Tinggi lah yang kemudian akan digunakan sebagai dasar Mendikbud mengusulkan calon. Pertimbangan tersebut dapat berupa:

(a) Usulan nama-nama calon pimpinan perguruan tinggi negeri yang disampaikan oleh Senat perguruan tinggi dipandang cukup sebagai pertimbangan Senat Perguruan Tinggi Negeri, apabila Mendikbud mendapat keyakinan salah seorang dari calon tersebut tepat/sesuai untuk diangkat menjadi pimpinan perguruan tinggi tersebut.

(b) Apabila Mendikbud berkesimpulan/berpendapat lebih dari seorang dari calon-calon dipandang mempunyai kemampuan dan tepat untuk menjadi pimpinan perguruan tinggi tersebut, maka Mendikbud dapat meminta pertimbangan kedua kepada Senat Perguruan Tinggi Negeri. Sebagaimana pertimbangan pertama, pertimbangan kedua tidak mengikat sifatnya.

(c) Apabila Mendikbud berkesimpulan tidak ada calon yang sesuai dari nama-nama yang diusulkan oleh Senat Perguruan Tinggi Negeri, maka Mendikbud dapat menyampaikan nama calon yang dipilihnya

kepada Senat Perguruan Tinggi Negeri tersebut untuk memperoleh pertimbangan.

Telah menjadi ketentuan bahwa batas umur maksimal calon pimpinan Perguruan Tinggi Negeri, pada dasarnya adalah 56 (lima puluh enam) tahun. Pengecualian terhadap ketentuan ini, dapat dipertimbangan oleh Mendikbud untuk dimintakan dispensasi kepada Pemerintah, atas dasar alasan-alasan yang sangat kuat serta umur calon tidak melebihi satu tahun dari batas umur yang ditetapkan.

Pimpinan perguruan tinggi yang mendapat dispensasi batas umur tersebut diangkat menduduki jabatan untuk masa jabatan sampai yang bersangkutan berumur 60 tahun.

Tata Cara Memberikan Pertimbangan

Sesuai dengan Keputusan Direktur Jendral Pendidikan Tinggi, No. 1/DJ/Kep/1983 tentang tata cara memberikan pertimbangan terhadap calon rektor oleh senat univer/institut negeri di lingkungan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, bahwa Senat Universitas/institut mempunyai tugas memberikan pertimbangan kepada Rektor atas calon rektor dan pembantu rektor, sesuai dengan peraturan perundang-udangan serta kebijakan umum pemerintah dan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan yang berlaku.

Pada Bab I Keputusan Dirjen Pendidikan Tinggi No.1/DJ/Kep/1983 tersebut dijelaskan tentang Rapat senat Universitas/institut. Pada bab tersebut dijelaskan bahwa Rektor selaku Ketua Senat Universitas/Institut setelah menerima nama-nama calon Rektor dari Mendikbud segera mengadakan rapat senat untuk memberikan pertimbangan. Dalam rapat tersebut Rektor akan didampingi oleh Sekretaris Senat. Rapat senat akan dianggap sah bila dihadiri sekurang-kurangnya oleh 2/3 (dua pertiga) dari jumlah anggota.

Sementara Bab II memaparkan tentang cara memberikan pertimbangan. Bahwa pertimbangan yang diberikan oleh senat diperoleh tidak hanya melalui cara pemungutan suara, akan tetapi dengan cara memberikan skoring/penilaian oleh masing-masing anggota terhadap kepribadian/kemampuan calon rektor melalui format yang telah ditentukan. Penilaian yang akan diberikan oleh masing-masing anggota senat berupa penilaian terhadap penghayatan fungsi pendidikan tinggi dalam pembangunan nasional dan regional, kemampuan akademik, kemampuan manajemen, pola/ciri manajemen, hal-hal yang menunjang kelancaran pelaksanaan tugas, serta pengahayatan terhadap dasar, tujuan dan strategi serta suasana politik nasional. Namun ada kemungkinan dengan berbagai pertimbangan cara scoring tersebut tidak digunakan.

Menurut Prof. Dr. Ir. Bambang Soehendro, untuk mendapatkan gambaran yang lebih besar atas aspirasi Senat terhadap calon-calon Rektor/Ketua/Direktur, maka diperlukan tambahan informasi yang tidak dapat digambarkan oleh hasil scoring tersebut. Oleh sebab itu diharapkan selain hasil scoring, senat juga melakukan pemungutan suara oleh anggota senat atas calon-calon yang diajukan.

Siapa saja?

Bukan hal yang mudah untuk memprediksi siapa kira-kira yang akan masuk dalam jajaran calon rektor, dan selajutnya dapat menduduki kursi rektor. Beberapa waktu lalu mahasiswa yang tergabung dalam Suara Airlangga mengadakan poling untuk menjaring pendapat, siapa kira-kira yang diinginkan menduduki jabatan rektor. Bahkan hasil poling tersebut telah dimuat dalam harian Jawa Pos. Beberapa nama yang muncul antara lain Prof. dr. H. Sajid Hood Alsagaff yang saat ini menjadi PR IV, Prof. dr. Sam Soeharto selain juga guru besar FK Unair juga aktif dalam DPD Golkar Jatim, Prof. Dr. H. Suroso Imam Zadjuli, SE dekan FE Unair, juga dekan FKM Prof. Dr. dr. Rika Subarniati, SKM.

Paling tidak dengan melihat beberapa kriteria yang harus dimiliki seorang rektor kita mulai bisa mengira-ngira siapa saja yang berhak menjadi calon rektor. Pertama, golongan haruslah IV/e atau minimal satu tingkat di bawahnya yaitu IV/d, atau sesuai dengan ketentuan yang termuat dalam PP No. 14 tahun 1994. Tapi berdasarkan keputusan Dirjen Pendidikan Tinggi, untuk perguruan tinggi yang tidak mempunyai jumlah calon yang cukup, diberikan toleransi kepangkatan 2 tingkat di bawah terendah yang disyaratkan. Dengan demikian pangkat terendah bagi calon rektor universitas adalah Pembina Utama Muda (Gol. IV/c).

Selain itu juga adanya batasan umur maksimal, yaitu 56 tahun. Serta adanya ketentuan --walaupun tidak tertulis-- rektor sebaiknya adalah seorang profesor. Karena seperti kita ketahui bersama ini secara tidak langsung menambah kredibilitas universitas yang bersangkutan.

Anggota senat universitas tercatat sebanyak 96 orang. Berdasarkan statuta Universitas Airlangga senat universitas terdiri dari Pimpinan Universitas (Rektor dan empat Pembantu Rektor), seluruh Dekan, guru besar dan wakil dosen. Dari sisi lain dapat pula dijabarkan dari 96 orang tersebut terdiri dari 63 dari FK, 5 dari FE, 6 dari FF, 6 dari FKG, 7 dari FH, 3 dari FKH, 2 dari FISIP, 2 dari FMIPA, 1 dari FPsi dan 1 dari FKM. Dari jumlah anggota senat, masing-masing fakultas, sedikit banyak akan memberikan gambaran jumlah suara yang mungkin akan dibawa masing-masing calon. Memang jumlah terbanyak adalah dari FK, dan itu pulalah sebabnya telah sekian periode rektor selalu dipegang oleh FK. Apakah untuk periode yang akan datang juga demikian? Atau justru bisa jadi dari fakultas lain? Kita tunggu saja hasilnya, dan siapapun yang menjadi Rektor, rupanya kita harus menerima.

(eno)



Beranda Kampus UNIVERSITAS AIRLANGGA

Airlangga University Press


Dirancang oleh: © W. Purnomo.
Terakhir diperbaharui: 24 April 1997.